Kontemplasi

Ada waktu dimana semua orang rasa-rasanya sedang tidak sepihak dengan saya, kecuali satu orang; Laras. Maka kupilih dia untuk menjadi teman menjalani hidup.

Elon Musk

Elon ingin membuat metode pembayaran baru di internet, maka dia menciptakan PayPal.

Elon ingin mengendarai mobil listrik, lalu ia menciptakan Tesla Motors.

Elon ingin pergi ke luar angkasa dengan biaya murah, kemudian dia menciptakan SpaceX.

Elon ingin transportasi yang lebih cepat, maka dia mengembangkan Hyperloop.

 

Elon tidak ingin memberitahu orang seberapa buruknya dunia.

Karena Elon sedang sibuk merubah dunia.

Jadilah seperti Elon.

Ajari saya membenci Spin AB 2074 TN

Fakta bahwa saya yang mengendarai sepeda motor jelek rupanya dianggap sebagai hal negatif bagi beberapa orang. Kehidupan masa kecil keluarga kami berpengaruh besar pada karakter saya yang berorientasi pada prioritas, bukan trend. Suatu hari saya bertemu seorang teman kerja di parkiran dan dengan cepat dia berkata,”udah ganti aja ini motor, udah jelek ini!”. Saya masih kesal sampai sekarang mengingatnya.

Rasanya tidak ada yang saya rugikan saat mengendarai motor jelek sekalipun, kecuali pajaknya memang yang sudah 2 tahun tak dibayar. Kaca spion yang rusak dan warna yang mulai usang akibat umur tidak bisa dijadikan alasan untuk menggantinya. Ini bukan pelit, ini lebih menggambarkan kokohnya kepribadian orang yang lahir dan besar dari keluarga yang sederhana.

Ketika kelas 1 SMP saya merengek-rengek minta dibelikan sepeda motor F1ZR keluaran teranyar, dan orangtua saya dengan mentah-mentah menolak atas alasan uang. Berbagai cara saya lakukan untuk meyakinkan mereka tapi orang tua saya tetap tak bergeming. Barulah memasuki kelas 3 keinginan memiliki sepeda motor terkabul dalam bentuk Suzuki Smash 110. Saya agak kecewa karena motor yang dibelikan tidak sesuai harapan dan menganggapnya sebagai kejahatan kemanusiaan. Satu hal yang saya tidak tahu, mereka tidak mendapatkannya dengan mudah.

Kalau saya tak salah ingat, Ayah meminjam uang senilai motor tersebut ke koperasi kecamatan. Dan sebagai kewajibannya, ia harus menyetor uang 600 ribu setiap bulannya dari gaji yang ia terima sebagai Guru SD.  Yang terjadi kemudian adalah saya membalasnya dengan cara menjadi juara Olimpiade Matematika Kabupaten dan peraih NEM tertinggi di SMP tempat saya bernaung.

Yang menjadi masalah dari memiliki motor pada usia yang sedemikian muda adalah anda tak bisa diam di rumah, tetapi orang tua saya dengan tegas tak mengizinkan saya pergi jauh sepulang sekolah- sesuatu yang menyiksa karena sepeda motor bagi bocah SMP adalah Holy Grail. Walhasil kerjaan saya sepulang sekolah adalah membantu orang tua di kebun lada, lalu bermain sepakbola. Malamnya saya harus belajar & mengerjakan PR karena Ibu saya tidak men-toleransi nilai eksakta yang jelek. Saya bersyukur mengingat betapa konservatifnya saya dibesarkan.

Sebagai anak usia 13 tahun, pengetahuan saya tentang spesifikasi motor berbagai fabrikan cukup luas. Dari sinilah saya tau RX King tahun 2001 yang volume silindernya 135 cc tenaganya setara dengan motor 4 Tak 200 cc. Ketertarikan terhadap performa mesin ini sedikit banyak mendasari saya untuk memilih jurusan kuliah 5 tahun kemudian.

Jika manusia bisa berpacaran dengan sepeda motor, maka kesetiaan saya pada Spin 125R tidak ada bandingnya. Lima tahun saya di Jogja, dan selama jangka waktu itu pula kami berjalan beriringan. Ada puluhan ribu kilometer jarak yang saya lewati dari kosan-kampus-warung-kosan teman, dan semuanya saya tempuh bersama motor matic merah yang kerap dijadikan bahan lelucon itu. Tidak ada yang lebih mengerti saya dibanding dirinya. Saya sempat berencana mencantumkan “Spin AB 2074 TN” pada halaman persembahan skripsi saya.

Maka saat ada seorang yang memprotes saya mengendarai sepeda motor ini, saya tau saya harus diam. Karena bukan menjadi kewajiban saya untuk mengikuti gaya hidup orang lain.

 

Urang Bangkak

Ada banyak golongan yang bisa dikatakan sebagai orang beruntung. Mereka yang terlahir dari keluarga kaya raya, mereka yang dianugerahi wajah rupawan, muslim, pintar, adalah beberapa contohnya. Banyak sekali jenis orang beruntung yang ada di dunia tetapi menurut saya orang paling beruntung adalah orang Bangka.

Saya tidak berlebihan. Fakta bahwa sedikit sekali orang Bangka yang merantau dari pulau tersebut adalah atas alasan kemudahan bertahan hidup dan mencari nafkah. Banyak sektor yang bisa dijadikan sumber pendapatan dari mulai bertani lada, menyadap karet, kelapa sawit, sampai menambang timah. Belum lagi tenaga kerja terdidik seperti PNS dan karyawan swasta  masih dibutuhkan dalam jumlah yang besar.

Jumlah penduduk yang relatif rendah dan banyaknya sumber pendapatan tersebut disinyalir juga menjadi alasan datangnya orang orang dari luar Bangka.

Tidak heran jika beberapa kawan yang dulunya merantau kuliah ke pulau jawa, akhirnya kembali.

Dua bulan lalu saat saya berkesempatan pulang ke sana, saya kaget menyadari bahwa salah satu tukang parkir di lapangan Merdeka adalah “urang cino” (sebutan untuk orang Bangka keturunan Tionghoa). Sesuatu yang selamanya tidak akan ditemukan di pulau Jawa bagian manapun. Saya paham orang Tionghoa memang pintar melihat peluang bisnis, tapi menjadi tukang parkir bukan pilihan yang sering digemari.

Saya kemudian berpikir betapa banyaknya pekerjaan yang masih lowong yang saking tidak dimanfaatkannya, sampai-sampai orang Tionghoa yang terpaksa masuk ke sektor tersebut.

Jika ada mahasiswa di Bangka melakukan aksi demo memprotes soal minimnya jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia, jitak saja kepalanya. Malaikat akan mencatatnyaa sebagai amal baik.

Tetapi, apa yang membuat Bangka menjadi tempat yang paling istimewa di hati adalah karena ini tanah kelahiran. Tidak ada tempat yang lebih spesial dari tanah kelahiran. Sejauh apapun anda pergi, dengan siapapun anda hidup sekarang, yang anda rindukan nanti adalah orang dan tempat dimana anda berasal.

Apapun kelak yang terjadi pada saya di masa depan, saya akan tetap meng-klaim sebagai orang beruntung karena lahir dan tumbuh di Bangka.

lagi merenung

Hidup adalah rangkaian pilihan dan keputusan yang kita buat dari hari ke hari, yang membawa kita ke hari ini.

Cikampek, 17 Juni 2015. abis sholat taraweh pertama taun ini.

Obrolan singkat

“Kenapa nggak ikut tes AHM aja? Enak tau disini”. –tukas seorang kawan SMA yg sudah lama tidak ketemu, dan kebetulan juga bekerja di kawasan industri cikampek, Astra Honda Motor (AHM) tepatnya.

Tadinya saya ingin jawab dgn kalimat : “ aku udah terlanjur betah eh, di sini aku udah dapat fasilitas tempat tinggal dan makan 3x sehari, fasilitas bus antar jemput perumahan-pabrik, bisa sholat 5 waktu, badminton 3x seminggu di GOR perusahaan yang lantainya terbuat dari jati, ngajarin matematika anak panti asuhan nahrul hayat, dan yang terpenting digaji dengan nominal yang “lebih dari yg saya bayangkan”.

Oh iya, sebagai perbandingan, setau aku justru orang AHM deh yg sering pindah kesini atas nama kesejahteraan, hehe.”

Saya ingin sekali menjawab demikian, tapi nampaknya kepribadian saya nggak terlalu “ISTJ” untuk melakukannya dan saya nggak mau dibilang pongah.